Kamis, 01 September 2016

Komnas HAM Lakukan Penyelidikan Tragedi Meranti

Meranti--Menyikapi tragedi Meranti “berdarah” Kamis dinihari,(25/8). Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM-RI) akan turun gunung, jejaki kota Selatpanjang Kabupaten Kepuluan Merati-Riau, Jumat hingga Senin Mendatang (2-5/9).
 
Selain akan melakukan pemantauan, Komnas HAM-RI juga akan melakukan prores penyelilidikan atas meninggalnya 1 orang Polri serta 2 orang warga sipil.Kepada Meranti Ekspres (Dumaipos Grup), Komisioner Komnas HAM RI Natalius Pigai melalui Pesan Elektronik Kamis siang (1/9) menyatakan, setelah melakukan pengamatan dan pengkajian sesuai dengan wewenang Komnas HAM, sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Ayat (1) dan Pasal 89 Ayat (3) Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, maka Komnas HAM RI telah memutuskan untuk melakukan pemantauan dan penyelidikan terkait tragedi Meranti “berdarah” Kamis dinihari,(25/8).
 
“Oleh karena itu, Komnas HAM merasa perlu untuk merespon Peristiwa Meranti yang terjadi beberapa waktu lalu. Kami akan melakukan pemantauan sekaligus penyelidikan, dimulai dari Jumat sampai dengan hari Senin september 2016 mendatang”,ujarnya.
 
Serambi mengupresiasi langkah Kapolri terkait pencopotan jabatan Kapolres Meranti Asep Iskandar serta memproses pidana terhadap tersangka, Dirinya juga menambahkan, tetap berupaya mendorong agar terdinya proses hukum yang objektif, dan imparsial terhadap para pelaku, Ujar Natalius Pigai.
Selain itu disisi lain, pihak keluarga korban juga mendesak Polda-Riau untuk buka-bukaan terkait hasil Otopsi. Salah seorang keluarga Afriadi Pratama, korban tewas yang diduga akibat penganiayaan aparat Polres Kepulauan Meranti.
 
Kakak kandung korban, Nur Afny saat ditemui Meranti Ekspres di kediamannyam Gang Abadi Selatpanjang, mengungkapkan, sebelumnya dirinya dan keluarga sudah meminta Kapolda untuk membuka hasil otopsi, namun permintaan tersebut ditolak dengan dalih, akan dibuka di dalam persidangan.
“Kami sangat berharap pihak Kepolisian dapat membuka hasil otopsi tersebut. kami ragu, nanti hasil finalnya malah meringankan hukuman pelaku yang telah menewaskan adik kami,”ujarnya.
 
Dengan keluarnya hasil otopsi tersebut, pihak keluarga berharap bisa mengetahui apa yang menjadi penyebab kematian Afriadi Pratama. Sebab keluarga menduga kuat, adanya tindak penganiayaan berat, setelah salah satu adik kandungnya, Rian Hidayat, melihat langsung kondisi jasad abangnya saat dimandikan.
“Tubuh abang penuh luka dan lebam. Wajahnya bengkak, kepalanya juga begitu,”cerita Rian.
 
Dia juga membeberkan leher dan kedua tangan abangnya dalam keadaan patah. Di kepala bagian belakang, pipi dan kaki juga terdapat luka lecet seperti bekas seretan. Kemudian jakun korban juga terbenam kedalam dan ada bekas luka dalam di telapak kaki kiri.
 
“Biasanya mayat kaku, tapi leher dan tangan abang tidak. Saat kami luruskan, kembali lepas, atau terkulai. Karena memang leher dan tangannya sudah patah,” beber adik kandung korban dengan wajah sedih.
Disisi lain, Ibu kandung Afriadi Pratama, Nur, masih terbaring lemah di kasurnya. Dia terlihat depresi berat dan enggan bicara banyak sejak malam rumahnya digeledah polisi untuk mencari anaknya.
 
“Saya cuma mau keadilan. Tolong hukum pembunuh anak saya,” ucapnya dengan suara lirih dan pelan.
Sejauh ini Polda Riau sudah memanggil 38 orang anggota Polres Meranti untuk diperiksa Propam, tiga diantaranya telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun belum jelas peran dari ketiga anggota yang berpangkat Brigadir dan Brigadir Dua (Bripda) itu.
 
Hal senada juga disampaikan, Rudi. Paman dari Isrusli, korban tewas saat bentrokan berdarah di depan Mapolres Meranti saat aksi mass menuntut keadilan atas kematian Afridi Pratama, Kamis (25/8). Dia meyakini kematian ayah tiga anak itu bukanlah disebabkan batu sesuai alasan yang disampaikan AKBP Asep Iskandar, penjabat Kapolres saat itu.
 
“Kami yakin itu terkena tembakan. Apa mereka pikir masyarakat bodoh. Bagaimana mungkin lemparan batu bisa langsung tewas dengan luka begitu. Sangat tidak masuk akal, apalagi keluarga melihat bekas lukanya seperti menembus ke belakang kepala,” jelasnya.
 
Untuk itu pihak keluarga meminta Polri serius dan tidak tendensius dalam menyelidiki kasus tersebut. Menurutnya, saat ini pihak keluarga dan masyarakat Meranti pada umumnya menunggu ketegasan sesuai komitmen Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Kapolda Riau Brigjen Supriyanto.
 
“Tolong sampaikan hasil visum dokter itu sesuai fakta. Saat ini keluarga dan masyarakat diam karena kami percayakan pada Polri. Tapi pecayalah, diam ini seperti api dalam sekam,” tegasnya.
Isrusli yang menjadi tulang punggung bagi keluarganya ini sehari-hari berprofesi sebagai nelayan dan menjual ikan di pasar Selatpanjang. Almarhum meninggalkan 3 anak yang masih kecil dan 1 orang istri.(dp)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar